TANGERANG — Di tengah rasa pilu dan prihatin akan kondisi rumah nenek Mursani (75), yang tetap dipertahankan berdiri dengan topangan bambu dan kayu seadanya, potret sebaliknya justru terlihat di Gedung Kantor Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.
Terpantau (16/2), gedung kantor tempat para pejabat sekaligus pelayan masyarakat Kecamatan Tigaraksa itu berdiri kokoh dengan gagahnya, bahkan tengah dilakukan semacam renovasi. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya material dan sejumlah alat bangunan yang terpampang jelas di depan kantor tersebut.

Kondisi ini pun mendapatkan reaksi keras dari aktivis senior Kabupaten Tangerang, Alamsyah. Dirinya merasa prihatin, dengan ketimpangan prioritas yang dengan gamblang ditunjukan oleh Pemerintah Kecamatan Tigaraksa.
Hal ini katanya, menjadi ironi nyata dan preseden buruk atas kepemimpinan Camat Tigaraksa saat ini, seakan tidak peka akan kesulitan masyarakatnya sendiri yang merasa terus was-was di rumahnya sendiri.
“Ini menjadi ironi yang sangat menyesakkan, sangat menusuk nurani setiap orang. Dari sini kita dapat melihat potret ketimpangan prioritas yang dengan nyata ditunjukan oleh pihak Kecamatan Tigaraksa”, ungkap Alamsyah, saat melihat ketimpangan yang terjadi di Kecamatan Tigaraksa itu.
Aktivis senior itu dengan tegas mengingatkan, agar Camat Tigaraksa yang menjabat saat ini, Cucu Abdurrosyied, membuka mata dan hatinya akan kondisi yang tengah dirasakan nenek Mursani, yang notabene adalah warga yang ia pimpin saat ini.
Rasa empati lanjutnya, wajib dimiliki oleh setiap pemimpin dimana pun. Jangan justru sibuk mengurusi gedung yang sudah berdiri kokoh dengan segala embel-embelnya, namun acuh terhadap penderitaan yang dirasakan masyarakatnya sendiri.
“Jangan sampai gedung Kecamatan terlihat cantik, tapi empati pejabatnya justru keropos. Sementara nenek Mursani dan cucunya tidur dengan resiko rumah roboh, pemimpin mereka justru sibuk menghias gedung kantor” tegasnya.

Menurutnya, jika camat dapat mengawal pembangunan gedung kantor kecamatan yang sebenarnya berdiri dengan kokoh itu, maka ia juga harus dapat melakukan aksi langsung dengan jemput bola membedah rumah nenek Mursani. “ini salah dan harus dibenahi,” tegasnya.
Sementara itu awak media masih terus berusaha mendapatkan tanggapan dari camat Tigaraksa, Cucu Abdurrosyied, atas kondisi memprihatinkan rumah nenek Mursani. Namun hingga berita ini dimuat, camat Tigaraksa masih tetap belum dapat dihubungi.


Tinggalkan Balasan