TANGERANG — Deteksi dini kesehatan siswa, Puskesmas Jalan Emas melaksanakan cek kesehatan gratis (CKG) pada kegiatan MPLS. Hal itu dilakukan sebagai bentuk komitmen Puskesmas Jalan Emas dalam meningkatkan derajat kesehatan anak usia sekolah melalui pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sebagai langkah awal mendeteksi kondisi kesehatan peserta didik sejak dini.

Pelaksanaan CKG Sekolah menjadi salah satu upaya promotif dan preventif Puskesmas Jalan Emas dalam mendekatkan pelayanan kesehatan kepada peserta didik. Melalui pemeriksaan kesehatan di lingkungan sekolah, berbagai faktor risiko dan permasalahan kesehatan dapat ditemukan lebih awal sehingga dapat segera diberikan edukasi maupun tindak lanjut sesuai dengan hasil pemeriksaan.

CAPAIAN PELAKSANAAN CKG SEKOLAH

Dalam pelaksanaannya, Puskesmas Jalan Emas menargetkan pemeriksaan kesehatan terhadap seluruh peserta didik baru yang tersebar di 22 Sekolah SD, SMP dan SMA di wilayah kerja Puskesmas Jalan Emas, dimulai pada Senin, 13 Juli 2026 hingga Jum’at,17 Juli 2026.

Sebanyak 1193 peserta didik baru telah mendapatkan pelayanan CKG Sekolah atau mencapai 100% dari total sasaran siswa baru. Dari jumlah tersebut, pelaksanaan CKG Sekolah telah menjangkau 10 SD, 6 SMP, serta 6 SMA/SMK sederajat. Capaian ini menunjukkan komitmen Puskesmas Jalan Emas bersama pihak sekolah dalam memperluas akses pemeriksaan kesehatan bagi anak usia sekolah.

Terhadap peserta didik yang memiliki hasil skrining dengan faktor risiko atau membutuhkan pemeriksaan lanjutan, tim Puskesmas Jalan Emas memberikan edukasi serta arahan tindak lanjut sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing peserta didik. Pemeriksaan Disesuaikan dengan Usia dan Jenjang Pendidikan.

Pelaksanaan CKG Sekolah oleh Puskesmas Jalan Emas dilakukan sesuai dengan pedoman pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja.

Berdasarkan Kebijakan Pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi pencatatan dan pelaporan CKG sekolah 23 Juni 2026 oleh Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, jenis pemeriksaan dibedakan menurut jenjang pendidikan dan kelompok usia, yaitu SD sederajat usia 7–12 tahun, SMP sederajat usia 13–15 tahun, dan SMA sederajat usia 16–18 tahun.

Pada jenjang SD sederajat, pemeriksaan meliputi status gizi, skrining merokok dan tingkat aktivitas fisik untuk kelas 4–6, tekanan darah, gula darah, tuberkulosis, kesehatan telinga dan mata, kesehatan gigi, kesehatan jiwa, hepatitis B, kesehatan reproduksi untuk kelas 4–6, riwayat imunisasi kelas 1, kusta, serta skabies.

Sementara itu, pada jenjang SMP sederajat, pemeriksaan mencakup status gizi, merokok, tingkat aktivitas fisik, tekanan darah, gula darah, tuberkulosis, talasemia, anemia untuk kelas 7, kesehatan telinga, mata dan gigi, kesehatan jiwa, hepatitis B dan C, kesehatan reproduksi, riwayat imunisasi HPV bagi siswi kelas 9, kusta, serta skabies.

Adapun pada jenjang SMA sederajat, peserta didik mendapatkan pemeriksaan status gizi, merokok, tingkat aktivitas fisik, tekanan darah, gula darah, tuberkulosis, anemia remaja putri kelas 10, kesehatan telinga, mata dan gigi, kesehatan jiwa, hepatitis B dan C, kesehatan reproduksi, kusta, serta skabies.

PERKUAT KOORDINASI DENGAN SEKOLAH dan ORANG TUA Untuk MENDUKUNG KEBERHASILAN PELAKSANAAN CKG SEKOLAH

Puskesmas Jalan Emas terus memperkuat koordinasi dengan kepala sekolah dan jajaran sekolah di wilayah kerja. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan, pelaksanaan pemeriksaan berjalan sesuai jadwal dan seluruh peserta didik memperoleh pelayanan kesehatan.

Selain melakukan pemeriksaan, tim Puskesmas Jalan Emas memberikan edukasi kepada peserta didik mengenai pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga pola makan bergizi seimbang, meningkatkan aktivitas fisik, menjaga kebersihan diri, serta meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan fisik dan mental.

Melalui CKG Sekolah, Puskesmas Jalan Emas berharap deteksi dini masalah kesehatan dapat dilakukan secara lebih optimal sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan berkualitas.