TANGERANG — Kondisi mengkhawatirkan sebuah rumah milik nenek Mursani (75) warga Kampung Matagara RT 002 RW 002, Desa Matagara, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, membuat siapapun yang melihatnya merasa ngeri dan waspada.

Bagaimana tidak, rumah yang dihuni oleh nenek Mursani dan satu orang cucu perempuannya itu masih bisa berdiri, berkat topangan tiang-tiang bambu dan kayu seadanya.

Pantauan awak media di lokasi (14/2), sejumlah tiang bambu terlihat menopang atap rumah milik nenek Mursani tersebut, bahkan terlihat struktur atap saling terikat hanya dengan tali yang terbuat dari kulit bambu.

Berdasarkan pengakuan nenek Mursani, sebelumnya kondisi rumah miliknya tersebut justru lebih parah dan nyaris roboh.

Namun beruntung, sejumlah tetangga perduli dan membantu untuk memperbaiki, dengan memasang penopang bambu dan merekatkan struktur atap menggunakan tali.

“Tadinya lebih parah, tapi tetangga yang khawatir dan perduli akhirnya membantu memperbaiki” ungkap nenek Mursani kepada awak media, Sabtu 14 Februari 2026.

Bukan hanya nyaris roboh, rumah yang terletak di Kecamatan Tigaraksa tersebut justru membuat penghuninya merasa semakin waspada.

Hal itu karena kondisi rumah tersebut yang tanpa plafon, hingga kabel berseliweran di setiap ruangan yang ada, mengancam keamanan penghuninya.

Air hujan pun tak dapat dibendung, hingga nenek Mursani harus menyiapkan sejumlah wadah untuk mengantisipasi, terlebih ketika musim penghujan datang.

KONDISI KAMAR MANDI KUMUH DAN TIDAK LAYAK

Semakin miris, ketika awak media melihat ke lokasi kamar mandi. Kagetnya kamar mandi tersebut justru dapat dibilang terbuka, karena hanya dilindungi oleh bilik-bilik transparan yang dapat dilihat dengan jelas dari luar.

Bahkan tambalan-tambalan di dinding bilik yang berusaha menutupi kamar mandi tersebut, tidak dapat menutupi sepenuhnya dinding yang sudah tidak utuh.

Selain itu dapat dilihat, lantai di rumah tersebut yang sama-sama sudah tidak utuh dan bercampur dengan tanah, terlebih saat tetesan air hujan turun menembus rumah tersebut.

MENGAJUKAN PROGRAM RTLH

Berdasarkan keterangan yang disampaikan nenek nenek Mursani, rumahnya tersebut sempat diajukan untuk masuk program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ke Kecamatan Tigaraksa.

Namun ternyata pihak kecamatan tidak memberikan kabar, apakah rumah miliknya itu bisa mendapatkan bantuan perbaikan atau tidak.

“Saudara yang bantu, karena katanya emang rumah ini udah mengkhawatirkan gitu. Katanya si ya gitu, gak ada kabar ya mungkin ditolak atau gimana gitu kurang tau” ungkap nenek Mursani.

Begitupun dengan pihak Pemerintah Desa Matagara, yang belum pernah menengok kondisi rumah yang dihuni nenek berumur 75 tahun dan cucu perempuannya yang masih seorang pelajar SMP tersebut.

Nenek Mursani pun berharap, rumah tempatnya bermukim itu menjadi rumah yang layak, benar-benar menjadi tempat berlindung bagi ia dan cucu perempuannya.

“Pengennya ya ada bantuan dari pemerintah, seenggaknya biar nyaman dan aman. Kalo saya kasian sama cucu masih kecil, pastinya pengen rumah yang sehat” ungkapnya.

Sementara itu, awak media pun mengkonfirmasi via WhatsApp Camat Tigaraksa, Cucu Abdurrosyied, terkait kondisi mengkhawatirkan rumah milik nenek Mursani ini.

Termasuk untuk mengetahui mekanisme pengajuan program RTLH, syarat-syarat, indikator layak dan tidak layak huni. Namun belum ada tanggapan sampai berita ini dimuat.