TANGERANG – Masa depan kawasan aglomerasi seperti Kabupaten Tangerang kini berada di tangan generasi muda. Mereka mendorong untuk mengubah paradigma kota satelit yang selama ini dikenal sebagai wilayah penyangga Jakarta, menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing.
Hal tersebut disampaikan Ade Putra, dalam Diskusi Publik bertajuk “Kota Satelit : Tangerang Antara Harapan dan Tantangan”.
Menurut Ade, Tangerang memiliki potensi besar untuk tumbuh sebagai pusat inovasi yang mampu menciptakan peluang ekonomi sendiri.
“Sudah saatnya kota satelit bertransformasi menjadi inkubator bisnis baru. Generasi muda harus berhenti bergantung pada lapangan pekerjaan di pusat kota, kita harus memulai menciptakan solusi dari daerahnya sendiri,” ujar Ade.
Ia menjelaskan bahwa ketergantungan ekonomi terhadap Jakarta selama ini turut memicu berbagai persoalan perkotaan, seperti kemacetan, tingginya mobilitas komuter, hingga meningkatnya polusi udara.
Ade mendorong anak muda harus mulai mengembangkan berbagai sektor strategis, seperti pembangunan digital hub lokal, aplikasi mobilitas, platform e-commerce produk UMKM, hingga pengembangan pertanian berbasis teknologi.
“Keunggulan kota satelit justru terletak pada ruang yang lebih luas dan biaya operasional yang lebih kompetitif. Ini menjadi modal penting bagi lahirnya wirausaha muda dan industri kreatif yang mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan di pusat kota,” katanya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan transformasi kota satelit sangat ditentukan oleh keberanian generasi muda untuk berinovasi, membangun kolaborasi, dan menciptakan lapangan pekerjaan tanpa harus meninggalkan daerah asalnya.
Selain isu ekonomi digital, diskusi juga menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan, khususnya pada sektor kesehatan, pendidikan, serta modernisasi pertanian agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.
Sementara itu, aktivis Tangerang, Aziz Patiwara, menilai bahwa transformasi kota satelit tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan investasi maupun pembangunan fisik.
Menurutnya, arah pembangunan harus berorientasi pada keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kita tentu mendukung inovasi dan investasi. Namun, pertanyaan yang harus terus kita ajukan adalah, apakah pembangunan tersebut benar-benar meningkatkan kualitas hidup masyarakat atau justru melahirkan ketimpangan baru,” kata Aziz.
Ia menegaskan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab sebagai agen perubahan yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga berperan aktif mengawal kebijakan publik agar pembangunan berlangsung secara partisipatif, berkeadilan, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.
“Bagi kami sebagai mahasiswa, kota satelit bukan sekadar ruang pertumbuhan ekonomi. Kota satelit harus menjadi ruang yang menghadirkan kesempatan yang setara, menjaga lingkungan hidup, serta membuka akses yang adil terhadap pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan. Kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari tingginya gedung atau besarnya investasi, tetapi dari sejauh mana masyarakatnya memperoleh manfaat dari pembangunan tersebut,” tutup Aziz.


Tinggalkan Balasan