TANGERANG – Insiden pembacokan brutal yang menimpa Sultan Auliah (19) di kawasan Taman Adiyasa, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, pada Jumat (24/4/2026) malam, memantik reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat. Aktivis senior Kabupaten Tangerang, Alamsyah, melayangkan kritik tajam terhadap Polresta Tangerang atas lemahnya pengamanan wilayah yang berujung pada aksi kriminalitas sadis tersebut.

Alamsyah menilai, peristiwa yang mengakibatkan dua ruas jari tangan korban putus ini merupakan cerminan dari terabaikannya tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas). Ia menyoroti fenomena di mana aparat kepolisian kini terlihat lebih sibuk mengurusi program-program non-teknis, ketimbang melakukan patroli pencegahan kriminalitas.

“Saya sangat menyayangkan kejadian ini. Ini adalah bukti nyata bahwa pengamanan wilayah di Tangerang sedang tidak baik-baik saja. Polisi sekarang seolah-olah lebih sibuk mengurusi proyek tanam jagung dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ketimbang menjaga keamanan warga dari ancaman geng motor,” ujar Alamsyah dengan nada geram, Sabtu 25 April 2026.

Kembali ke Tugas Utama

Menurut Alamsyah, sebagai institusi yang memiliki kewenangan penuh dalam penegakan hukum dan keamanan, Polri seharusnya tidak terdistraksi oleh agenda-agenda yang di luar kompetensi inti mereka.

Ia menegaskan, bahwa jabatan Kapolri hingga tingkat Polsek dibentuk untuk menjamin rasa aman rakyat, bukan untuk menjadi operator program pangan atau sosial pemerintah.

“Tolong diingat kembali tupoksi Polri itu apa. Keamanan masyarakat adalah prioritas mutlak. Jangan sampai karena mengejar agenda pemerintah di sektor pangan dan nutrisi, jalanan Tangerang justru berubah menjadi zona perang geng motor,” tegasnya.

Ia menambahkan, pembacokan terhadap Sultan Auliah yang dilakukan oleh 14 anggota geng motor dengan tujuh sepeda motor adalah tindakan kriminal terorganisir yang seharusnya bisa dideteksi lebih awal melalui patroli rutin yang ketat.

Desakan Evaluasi Total

Alamsyah mendesak jajaran Polresta Tangerang untuk segera melakukan evaluasi total terhadap sistem keamanan wilayah. Ia meminta kepolisian untuk menghentikan retorika dan fokus pada langkah konkret berupa penangkapan pelaku dan peningkatan intensitas patroli malam di titik-titik rawan.

“Jangan hanya dijawab ‘akan kami tindak lanjuti’ dengan singkat. Publik butuh bukti. Segera tangkap pelakunya, bongkar jaringannya, dan perbanyak patroli. Jangan tunggu ada korban jiwa lagi baru kepolisian tersentak dari kesibukan mengurus jagung,” pungkas Alamsyah.

Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga korban masih menanti tindak lanjut nyata dari Mapolresta Tangerang pasca pelaporan resmi yang dilakukan pada Jumat malam. Masyarakat kini menuntut kehadiran polisi yang efektif di tengah keresahan meningkatnya aksi geng motor di wilayah hukum Tangerang.