KARYABANTEN — Setelah sekian lama dibiarkan dalam kondisi kumuh dan tidak terurus, pengelola Terminal Terpadu Merak (TTM) akhirnya dengan panik menggelar kerja bakti untuk membersihkan lingkungan fasilitas tersebut, usai mendapat sorotan dan kritik pedas dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Geram Banten Indonesia.
Miris memang, terminal tipe A yang merupakan terminal induk utama Kota Cilegon dan jaraknya tidak jauh dari Pelabuhan Merak itu, telah dibiarkan terlihat kumuh selama ini.
Padahal terminal tersebut mendukung arus penumpang yang besar, terutama saat arus mudik. Termasuk juga merupakan titik pertemuan krusial, dimana penumpang kapal feri dari Sumatera dapat langsung melanjutkan perjalanan mereka ke berbagai daerah termasuk Jawa.
Meski pada akhirnya dilakukan kerja bakti bersih-bersih fasilitas di terminal Merak tersebut, pihak pengelola justru tidak mau disalahkan sepenuhnya, mereka menuding masyarakat sebagai penyebab bau pesing selama ini di lokasi.

Hal tersebut, diungkapkan pihak Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Banten dalam keterangan tertulis mereka, pada surat dengan nomor : UM.006/1/4/BPTD-Banten/2026.
“Terkait bau pesing di toilet, ditemukan berasal dari aktivitas masyarakat yang buang air kecil sembarangan di area foodcourt dan lantai 1 gedung terminal,” ungkap Kepala BPTD Kelas II Banten, Eko Indra Yanto, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Kamis 5 Februari 2026.
Meski ternyata, dalam keterangan itu pihaknya juga mengakui bahwa perilaku masyarakat buang air kecil sembarangan tersebut, dikarenakan kondisi fasilitas dalam hal ini toilet yang tidak berfungsi.
Pihak BPTD Banten menuturkan, bahwa toilet yang tidak berfungsi tersebut akan kembali difungsikan, setelah dilakukan perbaikan oleh PT. ASDP.
“Selanjutnya pengunjung terminal akan diarahkan menggunakan toilet di lantai 2” terang Eko.
Persoalan-persoalan yang ada di terminal Merak ini pun tentu memunculkan pertanyaan publik, apakah pengelola benar-benar serius dalam bekerja untuk memelihara fasilitas tersebut.
Terlebih dijelaskan, bahwa sejumlah aksi baru dilakukan sebagai tanggapan atas kritik yang dilontarkan akibat kumuhnya terminal Merak, diantaranya :
1. Koordinasi dan kolaborasi untuk melakukan kegiatan kerja bakti bersama setiap satu kali dalam sebulan.
2. PT. ASDP dan PT. IFPro disebut telah memaksimalkan jumlah petugas kebersihan di terminal.
3. Penanganan drainase serta pembersihan toilet lantai 1 serta 2, termasuk pemasangan sign ketersediaan toilet di lantai 2.
4. Melakukan sosialisasi terkait kebersihan kepada tenant UMKM yang beraktivitas di terminal.
5. PT. ASDP menyiapkan mesin pompa sebagai antisipasi jika terjadi genangan air di area terminal.
Sementara itu terkait sorotan lain yakni transparansi pengelolaan parkir, pihak BPTD Kelas II Banten melemparkan persoalan kepada PT. ASDP.
Dijelaskan bahwa pihaknya tidak melakukan pemungutan terhadap fasilitas parkir di terminal, karena statusnya yang telah disewakan oleh PT. ASDP dan menjadi bagian dari pendapatan PT. ASDP.

“Sehingga untuk laporan pengelolaan parkir dapat dikoordinasikan lebih lanjut ke PT. ASDP Cabang Merak” terang Eko.
Publik pun menantikan dan bertanya-tanya, apakah aksi kerja bakti serta berbagai langkah yang dilakukan pengelola terminal tipe A Merak setelah mendapat sorotan tersebut, hanyalah aksi reaktif saja untuk meredam sorotan.
Atau mungkin memang benar kesadaran akan tanggung jawab mereka, untuk memastikan kenyamanan dan kesehatan serta pelayanan prima di lingkungan Terminal Terpadu Merak.


Tinggalkan Balasan