TANGERANG — Perjuangan para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang tetap berusaha untuk memastikan agar usaha mereka terus berjalan memang sudah seharusnya diacungi jempol dan mendapatkan apresiasi. Lain jenis usaha, lain juga persoalan yang harus dihadapi setiap harinya, mulai dari masalah permodalan, sampai pasar dan perangkat usaha yang tidak mumpuni masih menjadi hambatan.
Seperti diungkapkan Yanti, seorang ibu rumah tangga (irt) yang menceritakan bagaimana dirinya tetap memperjuangkan usaha makanan beku (frozen food) dengan alat ala kadarnya. Hal itu ia sampaikan dalam forum sosialisasi warga bersama Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syari’ah AKR di Taman Kirana Blok A2, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, Selasa 19 Mei 2026.
Yanti menuturkan, kesulitan datang ketika dirinya memang menggunakan alat ala kadarnya dalam usaha frozen food tersebut. Dirinya hanya menggunakan kulkas (lemari pendingin) biasa, yang memiliki kapasitas terbatas dan tentunya mempengaruhi kualitas produk usaha yang digelutinya tersebut.
Persoalan ini pun kian membuat Yanti merasa pusing dan khawatir, karena dampaknya adalah kalah bersaing dengan pelaku usaha lain yang memiliki freezer khusus.
“Kalau saya kan pakainya kulkas pak yang biasanya untuk simpan sayur, jadi pasti kalah bersaing sama pelaku usaha lain yang punya freezer khusus,” ungkap Yanti dalam forum tersebut.
Dalam kesempatan itu dirinya menjelaskan, kebutuhan freezer khusus makanan beku sangatlah penting agar usaha yang ia geluti dapat terus berjalan serta berdaya saing.
Lain hal dengan Imron, rasa trauma dan skeptis justru menghantuinya akibat pengalaman buruk jatuh bangun dalam usaha yang dirinya geluti. Dimana saat kondisinya sangat terpuruk, Imron mengaku sampai dikejar utang di bank konvensional akibat bisnis yang gagal.
Pengalaman itu pun membekas, dan selalu membayangi ketika harus kembali berurusan dengan persoalan permodalan dari pihak lembaga keuangan.
“Harapan kami, tolong jangan hanya datang untuk menawarkan pinjaman modal saja. Kami sangat butuh dibimbing dan dibantu bagaimana caranya membangun serta mengelola usaha yang benar dari dasar, supaya modal yang dipinjamkan benar-benar produktif dan kami tidak jatuh ke lubang yang sama,” katanya.
Sementara itu Direktur Utama LKM Syari’ah, Denny Hikmat, merespon langsung semua persoalan yang disampaikan para pelaku UMKM dalam memperjuangkan bisnis mereka di forum tersebut. Mulai dari persoalan ibu Yanti yang membutuhkan alat penunjang untuk kelancaran bisnis frozen food nya, sampai persoalan Imron yang merasakan trauma akibat utang pinjaman yang dialaminya.
Di hadapan warga, Denny menegaskan bahwa LKM AKR yang ia pimpin saat ini beralih dari konvensional menjadi syari’ah, dengan misi dan tujuan utamanya adalah membantu para pelaku usaha maupun masyarakat lainnya yang kesulitan dalam persoalan permodalan. Tentunya dengan mengedepankan prinsip keadilan, margin yang transparan serta bebas dari praktik riba.
Berkaca pada trauma yang dialami Imron, dirinya mengingatkan agar warga tidak mudah tergiur dengan pinjaman cepat yang nantinya justru mencekik para peminjamnya. Seperti pinjaman online (pinjol), rentenir serta lembaga keuangan lain yang tidak jelas legalitasnya.
“Kami sangat mengimbau warga Desa Pasanggrahan untuk sangat berhati-hati terhadap tawaran pinjol ilegal atau jasa keuangan tidak resmi yang syaratnya terlihat sangat mudah. Itu adalah jebakan Batman. Bunganya mencekik, tidak transparan, dan cara penagihannya seringkali merusak tatanan sosial serta psikologis nasabah,” tegas Denny di hadapan forum.
Justru hadirnya LKM Syari’ah AKR di tengah masyarakat Kabupaten Tangerang khususnya di Pasanggrahan Solear saat ini lanjut Denny, untuk memudahkan dan menjaga agar masyarakat sendiri tidak terjebak dan terjerat pinjaman-pinjaman yang nantinya mencekik dan menyengsarakan masyarakat.
Denny juga memastikan, bahwa LKM Syari’ah AKR hadir di masyarakat bukan hanya untuk menawarkan pinjaman saja, namun dipastikan dibarengi dengan pendampingan bimbingan bagi para nasabah untuk mengatur keuangan dan menjalankan bisnis mereka.
“Kami tidak ingin masyarakat sekadar meminjam lalu dilepas begitu saja. Kami berkomitmen membimbing pelaku UMKM dari dasar—mulai dari cara mengelola keuangan kelompok, mencatat arus kas, hingga strategi bisnis yang benar. Intinya, kehadiran kami adalah untuk mengangkat masyarakat dari keterpurukan ekonomi” kata Denny.
Sementara itu menjawab persoalan kebutuhan freezer dalam bisnis Frozen food Ibu Yanti, Denny menuturkan bahwa LKM Syariah AKR memiliki program pembiayaan khusus pengadaan barang modal dengan skema yang sangat ramah bagi pelaku usaha mikro.
“Untuk kebutuhan alat produktif seperti freezer atau mesin sol sepatu, kami siap memfasilitasi lewat skema syariah. Namun, kami juga mengedukasi agar masyarakat cerdas mengukur kapasitasnya. Idealnya, total seluruh cicilan tidak boleh melebihi rasio sehat, yaitu maksimal 30 persen dari pendapatan bulanan. Ini penting agar keuntungan dari alat baru bisa dipakai membesarkan usaha, bukan habis untuk bayar utang,” tegasnya.


Tinggalkan Balasan